Andekhi Anjaani

Andekhi Anjaani Si Pagli Si Deewani Si
Jaane Woh Kaisi Hogi Re
Andekhi Anjaani Si Pagli Si Deewani Si
Jaane Woh Kaisi Hogi Re
Chori Se Chupke Chupke Baithi Hai Dil Mein Chupke
Jaane Woh Kaisi Hogi Re
Andekha Anjaana Sa Pagla Sa Deewana Sa
Jaane Woh Kaisa Hoga Re
Andekha Anjaana Sa Pagla Sa Deewana Sa
Jaane Woh Kaisa Hoga Re
Chori Se Chupke Chupke Baitha Hai Dil Mein Chupke
Jaane Woh Kaisa Hoga Re
Andekhi Anjaani Si Pagli Si Deewani Si
Jaane Woh Kaisi Hogi Re

Mere Khayalon Mein Na Jaane Kitni Tasveeren Banne Lagi
Bas Aasmaanon Pe Do Dilo Ki Takdeere Banne Lagi
Bin Dekhe Hai Aisi Bechaini Tauba Oye Rabba Dekha To Jaane Kya Hoga
Sapno Mein Aane Wali Neende Churane Wali
Jaane Woh Kaisi Hogi Re
Oh Palko Ke Upar Niche Dil Ke Dhadkan Ke Peeche
Jaane Woh Kaisa Hoga Re
Andekhi Anjaani Si Pagli Si Deewani Si
Jaane Woh Kaisi Hogi Re

Na Jaane Kya Hoga Na Kya Hoga
Pehli Mulakaat Mein
Kaise Chupaoongi Chand Ko Main Us Chaandni Raat Mein
Bas Ab To Main Uska Ghoonghat Kholoonga
Chupke Se Dekhonga Kuch Na Boloonga
Oye Oye Yeh Bechaini Oye Oye Yeh Betaabi
Jaane Woh Kaisa Hoga Re
Jis Ko Dekha Na Barso Usko Dekhoonga KalParso
Jaane Woh Kaisi Hogi Re
Andekha Anjaana Sa Pagla Sa Deewana Sa
Jaane Woh Kaisa Hoga Re
Andekhi Anjaani Si Pagli Si Deewani Si
Jaane Woh Kaisi Hogi Re
Jaane Woh Kaisa Hoga Re
Jaane Woh Kaisa Hoga Re

Leave a comment »

Use And Gratification Model

Use And Gratification Model/ Model Kegunaan Dan Kepuasan
Model ini merupakan pergeseran fokus dari tujuan komunikator kepada tujuan komunikan. Model ini menunjukkan fungsi komunikasi massa dalam melayani khalayak.

Model ini menyatakan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah “bagaimana media mengubah perilaku khalayak”, tapi “bagaimana media memenuhi kebutuhan khalayak”.

Model ini memulai dengan lingkungan sosial yang menentukan kebutuhan kita. Kebutuhan individual sendiri dikategorikan sebagai berikut :

a. Kebutuhan kognitif
Berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, da pemahaman mengenai lingkungan yang didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan; juga memuaskan rasa penasaran.

b. Kebutuhan afektif
Berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan emosional.

c. Kebutuhan pribadi secara integratif
Berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual terkait hasrat akan harga diri.

d. Kebutuhan sosial secara integratif
Berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman, dan dunia terkait hasrta untuk berafiliasi.

e. Kebutuhan pelepasan
Berkaitan dengan upaya menghindari tekanan, ketegangan, dan hasrat akan keanekaragaman.

9. Clozentropy Theory/ Teori Clozentropy
Penelitian dengan landasan teori ini dilakukan karena dalam komunikasi internasional, disatu pihak pesan dari negara A perlu diterjemahkan ketika disampaikan kepada negara B,tapi dilain pihak ada juga yang tidak memerlukan penerjemahan.

Kendati demikian, timbul pertanyaan apakah dalam komunikasi dengan menggunakan bahasa resmi yang sama itu dapat diperoleh pemahaman yang maksimal, jika pesan yang disampaikan itu dalam konteks nasional dan kebudayaan yang berbeda.

Studi ini menunjukkan pentingnya pra keakraban dengan isi pesan dalam hubungannya dengan pengertian pesan komunikasi.

Leave a comment »

TEORI KOMUNIKASI MASSA

Komunikasi Massa (Mass Communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (Surat Kabar, Majalah) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat.

1. Teori Pengaruh Tradisi (The Effect Tradition)
Teori pengaruh komunikasi massa dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang kelihatan berliku-liku dalam abad ini. Dari awalnya, para peneliti percaya pada teori pengaruh komunikasi “peluru ajaib” (bullet theory) Individu-individu dipercaya sebagai dipengaruhi langsung dan secara besar oleh pesan media, karena media dianggap berkuasa dalam membentuk opini publik. Menurut model ini, jika Anda melihat iklan Close Up maka setelah menonton iklan Close Up maka Anda seharusnya mencoba Close Up saat menggosok gigi.
Kemudian pada tahun 50-an, ketika aliran hipotesis dua langkah (two step flow) menjadi populer, media pengaruh dianggap sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh yang minimal. Misalnya iklan Close Up dipercaya tidak akan secara langsung mempengaruhi banyak orang-orang untuk mencobanya. Kemudian dalam 1960-an, berkembang wacana baru yang mendukung minimalnya pengaruh media massa, yaitu bahwa pengaruh media massa juga ditengahi oleh variabel lain. Suatu kekuatan dari iklan Close Up secara komersil atau tidak untuk mampu mempengaruhi khalayak agar mengkonsumsinya, tergantung pada variabel lain. Sehingga pada saat itu pengaruh media dianggap terbatas (limited-effects model).

Sekarang setelah riset di tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ilmuwan komunikasi sudah kembali ke powerful-effects model, di mana media dianggap memiliki pengaruh yang kuat, terutama media televisi.Ahli komunikasi massa yang sangat mendukung keberadaan teori mengenai pengaruh kuat yang ditimbulkan oleh media massa adalah Noelle-Neumann melalui pandangannya mengenai gelombang kebisuan.

2. Uses, Gratifications and Depedency
Salah satu dari teori komunikasi massa yang populer dan serimg diguankan sebagai kerangka teori dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah uses and gratifications. Pendekatan uses and gratifications menekankan riset komunikasi massa pada konsumen pesan atau komunikasi dan tidak begitu memperhatikan mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratifications mencoba untuk menjawab pertanyan : “Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan untuk media?” (McQuail, 2002 : 388). Di sini sikap dasarnya diringkas sebagai berikut :

Studi pengaruh yang klasik pada mulanya mempunyai anggapan bahwa konsumen media, bukannya pesan media, sebagai titik awal kajian dalam komunikasi massa. Dalam kajian ini yang diteliti adalah perilaku komunikasi khalayak dalam relasinya dengan pengalaman langsungnya dengan media massa. Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari khalayak yang aktif dalam memanfaatkan muatan media, bukannya secara pasif saat mengkonsumsi media massa(Rubin dalam Littlejohn, 1996 : 345).

Di sini khalayak diasumsikan sebagai aktif dan diarahkan oleh tujuan. Anggota khalayak dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap sebagai hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain. Riset yang dilakukan dengan pendekatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarfeld yang meneliti alasan masyarakat terhadap acara radio berupa opera sabun dan kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar (McQuail, 2002 : 387). Kebanyakan perempuan yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa dengan membeca surat kabar mereka selain mendapat informasi yang berguna, mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagai informasi dan rutinitas keseharian (McQuail, 2002 : 387).

Riset yang lebih mutakhir dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan dan mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media – persons interactions sebagai berikut :
Diversion, yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah; sarana pelepasan emosi
Personal relationships, yaitu persahabatan; kegunaan sosial
Personal identity, yaitu referensi diri; eksplorasi realitas; penguatan nilai
Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (McQuail, 2002 : 388).
Seperti yang telah kita diskusikan di atas, uses and gratifications merupakan suatu gagasan menarik, tetapi pendekatan ini tidak mampu melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal secara lebih mendalam. Untuk itu mari sekarang kita mendiskusikan beberapa perluasan dari pendekatan yang dilakukan dengan teori uses and gratifications.

3. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh sikap Anda terhadap media –kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan menghindari untuk melihatnya.

4. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media. Lalu apa yang sebenarnya melandasi ketergantungan khalayak terhadap media massa ?

Ada dua jawaban mengenai hal ini. Pertama, khalayak akan menjadi lebih tergantung terhadap media yang telah memenuhi berbagai kebutuhan khalayak bersangkutan dibanding pada media yang menyediakan hanya beberapa kebutuhan saja. Jika misalnya, Anda mengikuti perkembangan persaingan antara Manchester United, Arsenal dan Chelsea secara serius, Anda mungkin akan menjadi tergantung pada tayangan langsung Liga Inggris di TV 7. Sedangkan orang lain yang lebih tertarik Liga Spanyol dan tidak tertarik akan Liga Inggris mungkin akan tidak mengetahui bahwa situs TV 7 berkaitan Liga Inggris telah di up date, atau tidak melihat pemberitaan Liga Inggris di Harian Kompas.

Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.
Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.

Leave a comment »

Teori Komunikasi Politik

Dalam komunikasi politik terdapat teori-teori yang berkaitan dengan komunikasi politik, secara garis besar teori ini terbagi pada dua macam yaitu teori kepribadian dan diri politik[1].

Teori kepribadian dalam politik.
Jumlah teori tentang kepribadian sama banyaknya dengan jumlah defenisinya. Pada tulisan ini akan difokuskan pada beberapa saja diantaranya, tetapi lebih spesifik pada yang memberikan gambaran tentang belajar politik.

1. Teori kebutuhan.

Teori kebutuhan mengemukakan bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan psikologis, rasa mana dan kepastian, kasih sayang, penghargaan diri, dan katualisasi diri. Perilaku manusia merefleksikan upaya untuk memenuhi kebutuhan ini. Kecuali jika orang telah memenuhi kebutuhan pokok tertentu –kebutuhan akan makanan, pakain, rumah, energi, keturunan, dsb- sedikit seklai kemungkinan bahwa mereka akan berpikir, merasa atau bertindak secara politis. Orang hanya berbalik kepada politik hanya setelah memenuhi kebutuhan pokok fisik dan sosial.

Para perumus teori kebutuhan berargumentasi bahwa banyak diantara yang dipelajari orang tentang politik bergantung pada kepribadian yang diperoleh pada masa kanak-kanak sementara berusaha memenuhi kebutuhan pokok psikologis dan sosial pada masa dini usianya.

Tulis Knutson, betapa pentingnya pola kepribadian yang dipelajari anak sebelum memulai pendidikan formalnya. Sehingga “Kperibadian individu, sebagai mana dibentuk dalam tahun-tahun pertama usianya, akan merupakan sumber yang lebih penting meskipun kurang tampak dari ‘informasi, nilai, atau perasaanya di hadapkan kepada’ peraturan dasar yang pokok yang mengerjakan dan menghubungkan seluruh sistem kemanusiaan –sosial, politik, dan ekonomi –kepada ketimbang sosialisasi yang terjadi bersamaan dan di kemudian hari terwujudnya yang mempengaruhi dirinya. Ringkasnya, kebutuhan membuat anak itu menjadi bapak manusia politik.

2. Teori psikoanalitik.

Dua variasi yakni personal dan interpesoanal, bagaimana kepribadian mempengaruhi belajar dan perilaku politik.

Personal. Aliran personal dari teori psikoanalitik adalah tradisi Sigmund Freud. Freud berpendapat bahwa orang bertindak atas dasar motif yang tak disadarinya maupun atas dasar pikiran, perasaan dan kecenderungan yang disadari dan sebagaian disadari. Freud berpendapat tentang proses yang menjadi pokok berfungsinya kepribadian:

(1) Id, yaitu proses orang yang berusaha memaksakan keinginnanya akan hal yang menyenangkan.

(2) Ego, alat yang digunakan untuk menliai sekitar orang itu, atau realitas.

(3) Superego, yaitu gagasan orang diturunkan (biasanya melalui pengalaman dengan orang tuanya) tentang apa baik dan buruk itu.

Proses id mencari kesenangan dan perasaan benar atau salah, direfleksiakn didalam superego, sering berselisih. Ego menyeleseikan konflik ini melalui berbagai mekanisme pertahanan.

Mekanisme ini mencakup represi (memaksakan kepercayaan nilai, dan pengharapan yang mengancam keluar dari kesadaran), pengalihan (mengalihkan reaksi emosional dari satu objek ke objek yang lain), sublimasi (mencari cara yang dapat diterima untuk mengungkapkan dorongan yang dengan cara lain tidak diterima), rasionalsasi ( memberikan alasan yang meragukan untuk membenarkan perilaku atau utnuk menghilangkan kekecewaan), regresi (kembali kepada perilaku yang tidak dewasa, pembentukan reaksi (beralih dari satu ekstrem kepada ekstrem yang berlawanan), introjeksi (memungut pendirian orang lain sebagai pendirian sendiri), atau identifikasi ( meningkatkan rasa kuat, aman dan atau terjamin dengan mengambil sifat orang lain)

Teori psikoanalitik yang dibawa ke dalam dunia politik ini mengemukakan bahwa mekanisme pertahanan yang tidak disadari menghalangi belar politik yang adaptif.

Interpersonal. Varian intrepersonal dari teori psikoanalitik sebagian besar berasal dari karya Harry Stack Sullivan. Dalam kata-kata Sullivan, “Keprinadian adalah pola yang relatif kekal dari situasi interpersonal yang berulang yang menjadi ciri kehidupan manusia.” Sullivan menerima pandangan bahwa manusia memiliki kebutuhan biologis sebagai pembawaan. –kebutuhan akan makanan, air, kehangatan, dan pembuangan yang tidak diperlukan oleh tubuh. Tambahnya, bahwa manusia membutuhkan rasa aman dari pengalaman dengan orang lain yang membangkitkan kecemaan maupun jaminan pemuasan ketegangan yang bersifat biologis. Dan dalam mengurangi kecemasan dan memuasakan tuntutan bilogis orang sering terbentur pada hubungan sengan oarang lain yang rumit dan menyimpang.

Dalam keadaan ini orang mengembangkan mekanisme pertahanan, atau apa yang oleh Sullivan disebut “operasi keamanan”., untuk memelihara rasa aman bersama sesamanya. Sullivan menekankan empat operasi yaitu:

(1) Sublimasi, yang sama dengan mekanisme pertahanann yang diakui dalam teori Freud.

(2) Obsesionalime, yaitu kecenderungan gagasan atau dorongan untuk tumbuh begitu mendesak dan mengganggu sehingga individu tidak dapat menghilangkannya dari kesadaran (dalam beberapa hal, dorongan ini mengambil bentuk verbalime ritualisitk dengan sifat hampir magis.

(3) Disosiasi, yaitu mekanisme untuk menjaga agar pikiran yang bertentangan tetap terpisah,

(4) Keacuhan selektif dan lawannya, perhatian selektif, atau kebiasaan melihat apa yang kita ingin melihatnya dan menghindari informasi yang mengancam. disosiasi dan keacuhan selektif memilki gabungan langsung dengan komunikasi politik dan proses opini.

Selain itu para peneliti sosialisasi politik yang mengambil dari pemikiran Sullivan, mengemukakan bahwa salah satu cara utama anak-anak memperoleh kepercayaan dan nilai politik ialah melalui proses pengalihan interpersonal.

3. Teori Sifat.

Teori-teori dalam kategori ini berfokus pada kecenderungan atau predisposisi yang menentukan cara orang berprilaku. Setiap kepribadian mengandung seperangkat sifat yang unik dan individual. Oleh karena itu, orang dapat dibandingkan satu sama lain berdasarkan perbedaan sifat mereka –perbedaan yang diukur dengan skala yang menujukan berapa banyak sari setiap sifat itu yang dimiliki seseorang.

Contohnya sifat kepribadian yang diukur dengan skala seperti ini meliputi apakah seseorang mudah menyesuaikan diri atau kaku, emosional atau tenang, cermat atau ceroboh, konvensional atau eksentrik, mudah cemburu atau tidak, sopan atau kasar, pembosan atau tekun, lembut atau keras, rendah hati atau sombong, dan lemah atau bersemangat. Sejumlah ilmuwan sosial menerangkan politik sebagai refleksi sifat kepribadian. Studi lain berusaha menentukan sifat yang mencakup kepribadian konservatif.

4. Teori tipe.

Teori ini mengklasifikan orang ke dalam kategori-kategori berdasarkan karakteristik yang dominan atau tema pokok yang timbul berulangkali dalam perilaku politik mereka. Meskipun kebanyakan upaya untuk menguraikan kepribadian politik telah menerapkan teori tipe berfokus pada karakter dan gaya pemimpin politik, di sini perhatian kita adalah pada mereka yang etlah menggunakan teori tipe untuk memperhitungkan bagaimana khalayak komunikasi politik belajar menanggapai dengan berbagai cara.

Dalam teori ini berdasarkan perbedaan dalam pengaruh orang tua terhadap kepribadian seseorang terbadi pada beberapa tipe golongan, diantaranya:

(1) Golongan Inaktif adalah sesorang yang berpartisipasi dalam organisasi politik atau sosial di suatu tempat, mereka sama memiliki tipe asuhan orang tua yang sama. Orang tua mereka mengkhawatirkan kesehatan, konformitas, dan kepatuhan akan tuntutan orang tua.

(2) Golongan kovensionalis terdiri dari anggota perkumpulan laki-laki dan perempuan. Orang yang relatif sedikit keterlibatannya dalam politik dan merupakan stereotif “Orang Biasa” yang konvensional, orang tua yang konvensional pada umumnya setia kepada nilai sosial tradisional seperti tanggung jawaban, konformitas, prestasi, dan kepatuhan serta menuntut perilaku yang patut secara sosial dari anak-anak mereka. Oarang tua ini menggunakan hukuman fisik fisik dan psikologis dalam mendidik anak-anak mereka.

(3) Golongan konstruktivis bekerja pada proyek pelayanan sosial, tetapi jarang menjadi peserta protes yang terorganisasi; orang tua mereka menekankan disiplin, prestasi, dan keandalan, pengungkapan diri yang terbatas, dan menggunakan hukuman nonfisik. Mereka lebih diakrabi anak-anak mereka ketimbang orang tua golongan konvensionalis.

(4) Golongan aktivis mengajukan protes ataus kekecewaan mereka terhadap kejelekan masyarakat yang dipersepsi dan juga turut dalam proyek pelayanan masyarakat untuk memperbaiki keburukan itu, orang tua mereka mendorong anak-anak merela untuk independen dan bertanggungjawab, mendiring ekspresi diri berupa jenis agresi fisik, dan keurang menekan disiplin jika dibandingkan dengan kelompok yang diuraikan diatas. Namun mereka mengenang hubungan dengan orang tua sebagai hubungan yang kaku.

(5) Golongan penyingkin (disenter) adalah yang hanya terlibat dalam protes-protes terorganisasi. Orang tua golongan ini tidak konsisten dalam melaksanakan pendidikan anak. Mereka serba membolehkan (permisif) dalam bidang tertentu,d an sangat ketast (restriktif) dalam bidang lain, mereka kurang menekankan indenpedensi dan kedewasaan yang dini dibandingkan dengan orang tua yang lain, namun menuntut prestasi melalui persaingan. Golongan pengingkar jauh lebih cenderung unturk memprotes sebagai bentuk pemberontakan terhadap orang tua daripada dalam golongan yang lain.

Kebaikan atau kekurangan tipologi seperti itu di sini bukan pokok masalah, melainkan hanya contoh tentang bagaimana para sarjana kadang-kadang mencoba menerangkan politik sebagai refleksi kepribadian. Berbeda dengan teori sifat, pandangan tipe bukan menujukan kecenderungan yang menentukan perilaku, melainkan berfokus pada konsfigurasi perilaku yang memisahkan orang terhadap satu sama lain. Namun, baik dalam teori sifat maupun teori tipe, masa kanak-kanak mempengaruhi permainan peran utama dalam memberi bentuk kepada pengungkapan politik. Tema bahwa manusia politik itu dilahirkan dari anak, sekali lagi terjadi.

5. Teori fenomenologis.

Teori fenomenologis adalah pandangan bahwa peran kepribadian dalam perilaku (termasuk kepribadiandalam politik) paling mudah dipahami dengan melukiskan peranan langsung orang –yaitu proses yang digunakan oleh mereka yang memeprhatikan dan memahami fenomena yang disajikan langsung oleh mereka.

Oleh sebab itu, teori fenomenologis menekankan bahwa cara orang mengalami dunai secara subjektif –sensasi, perasaan, dan fantasi yang terlibat- adalah titik tolak untuk meneliti bagaimana orang menanggapi berbagai objek.

Dua garis uatam berpikir merefleksikan pendekatan fenomenalogis yaitu:

(1) Teori Gestalt tentang persepsi. Penganut teori ini berargumentasi bahwa aspek utama kepribadian ialah bagaimana orang menyusun pengalaman ke dalam pola atau konsfigurasi. Mereka menekankan prinsip kesederhanaan dalam menyusun persepsi.

(2) Teori medan. Teori ini berargumentasi bahwa kepribadian (pola perilaku yang kekal dan diperoleh dengan belajar) saja tidak dapat menerangkan bagaimana orang berprilaku. Setiap orang memilki ruang hidup yang tersusun dari medan gaya. Dalam bertindak, individu mendekati atau menghindari gaya dan objek dalam ruang hidupnya sebagaiaman ia memahami gaya itu saat bertindak.

Pengalaman yang lalu tentu bisa merupakan gaya di dalam medan itu, tetapi tidak menentukan bagaimana orang akan bertindak terhadap objek dalam situasi tertentu. Teori medan. Menolak gagasan bahwa penyebab tindakan manusia terletak pada masalah yang sudah lama dari setiap individu; sebaliknya, bidang pada saat sekarang adalah produk dari bidang tersebut menurut keadaanya pada masa yang baru saja lewat pengalaman masa lalu jauh turut membentuk bidang masa sekarang secara tidak langsung dengan perjalanan waktu, tetapi pengalaman yang segera memberikan keterangan yang lebih pasti tentang mengapa orang berperilaku seperti apa yang dilakukannya dalam bidang masa sekarang.

Teori bidang mencakup dua gagasan yang mempunyai relevansi khusus dengan politik, yang pertama ialha bahwa belajar politik merupakan proses kumulatif, bahwa pengalaman yang sedang dialaminya membantu seseorang mendiferensiasikan kepercayaan, nilai dan pengharapan yang difus yang dipungutnya pada msa kanak-kanak. Manusia politik mengajari anak masa lalu dengan melibatkan diri ke dalam pengalaman yang baru yang sebelumnya tidak diperhitungkan.

Kedua, sekelomok ilmuwan sosial menggunakan teori medan untuk mengarahkan riset ke dalam perilaku suatu bangsa.

Diri Politik.

Pada bahasan diatas telah jelas bahwa kepribadian adalah totalitas perilaku individu yang terwujud dalam kecenderungan yang berulang dan berpola pada seluruh variasi situasi dan mengenai berbagai objek dan berpola pada seluruh variasi situasi dan mengenai berbagai objek. Salah satu objek tindakan orang sehari-hari adalah diri sendiri. Tidak berbeda dengan tindkan terhadap orang lain, orang bisa menghargai dan mendorong diri sendiri atau merasa jijik, menayalahkan dan menghukum diri sendiri.

Banyak orang yang memperoleh diri politik, yakni bagian da\ri diri yang terdiri atas “paket orientasi indibidual mengani politik sosialisasi poltik menghasilkan diri politik”. Ada beberapa teori mengani cara terjadinya hal ini, diataranya:

1. Teori adopsi.

Dengan memberikan perhatian mereka kepada bagaiman orang memperoleh pikiran, perasaan, dan kecenderungan, psikolog sosial mengajukan berbagai model yang melukiskan cara memperoleh “semua pengetahuan di dunia, dengan benar atau keliru, yang dimiliki oleh organisme tertentu katakanlah manusia”, dan cara memperoleh “signifikansi yang efektif, pada neraca yang dinginkan lawan yang tak diinginkan, yang diletakkan kepada setiap keadaan tertentu.

Label umum yang diterapkan pada model-model ini ialah teori belajar sosial. Teori belajar sosial mengatributkan cara memperoleh kepercayaan, nilai, dan pengaharapan personal kepada pengalaman individual dengan orang lain, objek, atau peristiwa. Ada dua tipe pengalaman demikian- langsung dan tidak langsung.

2. Teori perubahan.

Teori belajar sosial menekankan berbagai cara yang mungkin digunakan orang dalam mengadopsi pikirna, perasaan, dan kecondongan awal mereka. Namun, seperti yang dikemukakan, teori ini tidak banyak membicarakan proses mental yang terlibat, juga tidak menerangkan perubahan dalam opini awal.

Teori konsistensi adalah seperangkat model yang berfokus pada perubahan opini. Model-model ini memperhitungkan bahwa orang tidak hanya mempersepsi tanda, atau rangsangan –pokok dasar gagasan belajar sosial- tetapi juga menginterpretasi dan menanggapi tanda berdasarkan interpretasi itu.

Teori penjulukan (labelling theory) mengatakan bahwa proses penjulukan adapat sedemikian hebat sehingga korban-korban msinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaurhnya. Karena berondongean julukan yang bertentangan dengan pandangan mereka sendiri, citra-diri asli mereka sirna, digantikan citra-diri baru yang diberikan orang lain. Dampak penjulukan itu jauh lebih hebat dan tidak berhubungan dengan kebenaran penjulukan tersebut, terutama bagi orang dalam posisi lemah, rakyat jelita misalnya, benar atau salah, penjulukan itu reaksi yang diberikan objek yang dijulukui terhadap orang lain “membenarkan” penjulukan tersebut. Maka nubuat itu telah dipenuhinya sendiri, dan dalam kasusu ini menjadi realitas bagi si penjuluk dan orang yang dijuluki (phlip fones, 1985:65). Pernyataan klasik sosiolog ternama William I Thomas “if men define situation as real they are real in their consequences” yang terkenal itu masih aktual. Manusia memutuskan melakukan sesuatu beradsarkan penafsiran atas dunia di sekeliling mereka[2].

Pustaka Acuan.

Mulyana, Deddy.Dr, M.A.2005 Nuansa-Nuansa Komunikasi.Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Dan Nimmo, 2001 Komunikasi Politik Khalayak dan Efek. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Malik Djamaludin, Dedy dan Inantara, 1994. Yosat. Komunikasi Persuasif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
[1] Dan Nimmo, 2001 Komunikasi Politik Khalayak dan Efek. Bandung: PT Remaja Rosda Karya Hal: 91.
[2] Mulyana, Deddy.Dr, M.A.2005 Nuansa-Nuansa Komunikasi.Bandung: PT Remaja Rosda Karya Hal: 69.

Leave a comment »

Superman

aku bukanlah superman
aku juga bisa nangis
jika kekasih hatiku
pergi meninggalkan aku

ayahku selalu berkata padaku
laki-laki tak boleh nangis
harus slalu kuat harus slalu tangguh
harus bisa jadi tahan banting

tapi ternyata sakitnya cinta
buat aku menangis

Aku bukanlah superman
Aku juga bisa nangis
Jika kekasih hatiku
Pergi meninggalkan aku

ayahku selalu memarahi aku
jika jatuh air mataku
kata ayah slalu
Air mata itu adalah tanda kelemahan

Tapi ternyata air mataku
Ternyata jatuh juga

Ayahku tersayang maafkanlah aku
jika aku masih menangis
Masih belum bisa
Menjadi seperti apa yang ayah selalu mau

Kita berjanji tuk tidak lagi
Menangis karena cinta

Leave a comment »

Komunikasi

Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain dilingkungannya adalah komunikasi baik secara verbal maupun non verbal (bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh suku bangsa).

DEFINISI

Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya. Beberapa definisi komunikasi adalah:

1.Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).

2.Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).

3.Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W).

4.Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).

Dalam pengertian umum, komunikasi adalah proses dimana seseorang / kelompok / organisasi mengirimkan pesan kepada orang / kelompok / organisasi lain. Pihak yang mengirimkan pesan disebut pengirim pesan (sender), sedangkan pihak yang menerima pesan disebut penerima pesan (receiver).

TUJUAN KOMUNIKASI
Tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:

1. Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2. Mempengaruhi perilaku seseorang
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
5. Berhubungan dengan orang lain
6. Menyelesaikan sebuah masalah
7. Mencapai sebuah tujuan
8. Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
9. Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orng lain

PROSES KOMUNIKASI
Berikut ini adalah bagan yang menggambarkan bagaimana proses komunikasi itu terjadi.

Proses yang terjadi di dalam bagan ini adalah :
Pengirim (sender) mengirim pesan kepada penerima (receiver) melalui satu atau lebih channel media. Setelah pesan sampai pada penerima maka penerima menerima pesan yang dikirim. Perlu diterangkan bahwa pesan yang dikirim dapat diubah bentuknya menjadi sandi yang dimengerti baik oleh pengirim maupun penerima yang kemudian akan diterima oleh penerima yang mengerti arti/makna sandi tersebut.

Channel (saluran atau media) yang dimaksudkan disini adalah media yang digunakan oleh pengirim untuk mengirimkan pesannya (sebagai misal: telepon, surat, telegram, dll). Merupakan alat untuk penyampaian pesan seperti TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dsb.

Noise adalah faktor-faktor yang mengganggu kejelasan pesan yang dikirimkan oleh pengirim dan diterima oleh penerima, merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya. Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita.

Ada dua macam gangguan:

1. Gangguan eksternal
Gangguan eksternal adalah berbagai gangguan yang berasal dari luar komunikator dan komunikan. Gangguan ini dapat berupa suara gaduh, suhu udara yang panas, ada hal lain yang lebih menarik perhatian audiens, bau yang tidak sedap, udara yang terlalu dingin dll. Gangguan dari luar biasanya tidak banyak mengganggu media atau saluran komunikasi, sepanjang tingkat gangguan itu masih bisa ditoleransi.

2. Gangguan internal
Gangguan internal adalah gangguan yang lebih sulit untuk dikendalikan. Gangguan ini berasal dari faktor-faktor psikologis. Misalnya rasa takut, kecewa, cemas, grogi atau gejolak emosi lainnya.

Komponen yang harus ada agar komunikasi dapat berjalan dengan baik, yaitu:

1.Pengirim pesan (Sender) dan isi pesan/materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas. Materi pesan dapat berupa:
a. Informasi.
b. Ajakan.
c. Rencana kerja.
d. Pertanyaan dan sebagainya.

2.Penerima pesan (Receiver)
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari si pengirim meskipun dalam bentuk kode/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.

3.Pesan (Message)
Pesan adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.

4.Umpan Balik (Feedback)
Umpan balik adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa umpan balik seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap si penerima pesan. Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Umpan balik dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Umpan balik yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak .

Umpan balik yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan juga dapat memperjelas persepsi.

Komunikasi dapat dibagi menjadi 3 komponen, yaitu :
1.Komunikasi verbal
adalah komunikasi yang disampaikan melalui kata-kata baik yang diucapkan maupun ditulis.

Komunikasi verbal dapat dibagi menjadi 2:
A.Media oral adalah kata-kata yang diucapkan, sedangkan
Contoh dari media oral adalah pembicaraan melalui telepon dan komunikasi tatap muka. Cara komunikasi seperti ini lebih baik digunakan untuk menyampaikan pesan yang ambigu dan tidak rutin. Selain itu cara komunikasi seperti ini dapat dilakukan menggunakan banyak media serta paling cepat untuk mendapatkan timbal balik dari penerima pesan.

B.Media tertulis adalah kata-kata yang dituliskan pada suatu media.
Contoh dari media tertulis adalah surat dan selebaran. Cara komunikasi seperti ini lebih baik digunakan untuk menyampaikan pesan yang membutuhkan kejelasan dan rutin terjadi. Selain itu cara komunikasi seperti ini dapat dilakukan dengan menggunakan media yang lebih sedikit daripada oral serta timbal balik yang diterima juga lebih lambat. Pada umunya media komunikasi tertulis di perusahaan dapat berbentuk seperti:

1)Koran perusahaan
Media tulis yang diterbitkan secara rutin berisi informasi yang menyangkut para pegawai perusahaan.
2)Buku saku pegawai
Media tulis yang berisi informasi mengenai jenis bisnis, latar belakang dan tata tertirb perusahaan tempat pegawai itu bekerja.
3)Media Elektronik
Media Electronik adalah efektif untuk mengirim pesan dengan cepat dari orang yang satu ke yang lain. Contoh dari media electronik, yaitu e-mail, faxing, teleconferencing, cell phones, voice mail Pesan verbal yang efektif yaitu:
a.Ringkas, singkat tapi jelas , dan terorganisir.
b.Babas dari jargon
c.Tidak menciptakan pembalasan di pesan yang disampaikan kepada pendengar.

2.Komunikasi tidak verbal(non-verbal)
Komunikasi tidak verbal (non-verbal) adalah Komunikasi yang disampaikan selain menggunakan kata-kata. Komunikasi tidak verbal (non-verbal) dapat dibagi menjadi:
a.Penampilan/penampakan
Komunikasi melalui penampilan/penampakan yang kita miliki (sebagai misal: bahasa tubuh, pakaian yang dikenakan, dll).
b.Ruang
Sebagian orang percaya bahwa makin besar ruang yang dimiliki seseorang maka makin besar pula kekuasaannya. Hal ini dapat berarti bahwa seorang manajer pada suatu perusahaan harus memiliki ruangan kantor yang lebih besar daripada ruangan kantor yang dimiliki oleh pegawai-pegawainya.
Ruang yang dimaksud disini tidak hanya berarti luasnya ruangan namun juga berarti bagaimana tatanan ruang itu. Tatanan ruang yang berbeda juga menggambarkan jabatan seseorang di perusahaan.
3.Komunikasi Paraverbal,
Komunikasi dengan cara bagaimana kita mengungkapkan kata–kata. Untuk mengkomunikasikan informasi menjadi pesan, perlu evaluasi media dengan mengkategorikan dalam 4 faktor, yaitu:
a.Feedback : apakah media memperbolehkan komunikasi dua araah dan memiliki kemaampuan dan kecepatan yang penting untuk menyediakan feedback? Rata-rata feedback, akan terjadi secara cepat atau sangat lamban.
b.Channel: Apakah media memperbolehkan untuk multiple rata- rata dari kombinasi visual dan audio untuk visual yang terbatas.
c.Tipe komunikasi: Apakah media memperbolehkan untuk emosional atau hubungan personal, apakah perorangan atau lebih ?
d.Language source: Apakah sumber informasi dari sumber natural atau sumber perorangan atau apakah murni atau sumber angka.
BENTUK KOMUNIKASI
Komunikasi sebagai proses memiliki bentuk :
1.Bentuk Komunikasi berdasarkan
a. Komunikasi langsung
Komunikasi langsung tanpa mengguanakan alat.
Komunikasi berbentuk kata-kata, gerakan-gerakan yang berarti khusus dan penggunaan isyarat,misalnya kita berbicara langsung kepada seseorang dihadapan kita.
b. Komunikasi tidak langsung
Biasanya menggunakan alat dan mekanisme untuk melipat gandakan jumlah penerima penerima pesan (sasaran) ataupun untuk menghadapi hambatan geografis, waktu misalnya menggunakan radio, buku, dll.
Contoh : “ Buanglah sampah pada tempatnya
2.Bentuk komunikasi berdasarkan besarnya sasaran :
a. Komunikasi massa:
Komunikasi dengan sasarannya kelompok orang dalam jumlah yang besar, umumnya tidak dikenal. Komunikasi masa yang baik harus :
 Pesan disusun dengan jelas, tidak rumit dan tidak bertele-tele
 Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami
 Bentuk gambar yang baik
 Membentuk kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio)
b. Komunikasi kelompok
Adalah komunikasi yang sasarannya sekelompok orang yang umumnya dapat dihitung dan dikenal dan merupakan komunikasi langsung dan timbal balik.
c.Komunikasi perorangan.
Adalah komunikasi dengan tatap muka dapat juga melalui telepon.
3.Bentuk komunikasi berdasarkan arah pesan :
a.Komunikasi satu arah
Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran dan sasaran tidak dapat atau tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan umpan balik atau bertanya, misalnya radio.
b.Komunikasi timbal balik.
Pesan disampaikan kepada sasaran dan sasaran memberikan umpan balik. Biasanya komunikasi kelompok atau perorangan merupakan komunikasi timbal balik

HAMBATAN KOMUNIKASI
Satu arah untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, adalah menjadi waspada dari hambatan untuk berkomunikasi, dan belajar bagaimana untuk meminimalisasi atau mengurangi efek yang kurang baik. Hambatan komunikasi seperti:

1. Informasi yang terlalu banyak (Information Overload), dapat disebabkan oleh :
a. Menyampaikan materi yang banyak.
b. Menyampaikan informasi terlalu rumit.
c. Menyampaikan informasi terlalu cepat.
d. Menyampaikan pada level dimana pendengar susah untuk mengerti informasi tersebut.
e. Tidak memberikan pendengar waktu yang cukup untuk memproses informasi.

2.Kepercayaan dan kredibilitas (Trust and Credibility)
Kepercayaan merupakan hambatan terbesar dalam komunikasi. Kredibilitas mencegah pendengar dari penuhnya menerima pesan.

3.waktu (Time)
Cara terbaik untuk masalah ini adalah dengan membangun kebiasaan untuk fokus hanya pada suatu komunikasi dalam satu waktu.

4.Penyaringan (Filtering)
Manipulasi yang disengaja dalam informasi untuk menjadikan lebih menarik bagi pendengar.

5.Emosi (Emotions)
Emosi merupakan lawan dari sebab, sulit untuk mengantisipasi, memprediksi, mengendalikan atau membaca emosi dalam diri sendiri atau orang lain.

6.Penyesuaian pesan (Message Congruency)
Proses komunikasi lebih dari sekedar kata yang diungkapkan. Penyampaian pesan harus secara hati–hati memikirkan potensi pesan yang akan dikirmkan nonverbal melalui isyarat tangan atau gerak badan.

Selain itu, ada pula hambatan komunikasi yang lain, yang terdiri dari:

1. Hambatan dari Proses Komunikasi

•Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.

•Hambatan dalam penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.

•Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.

•Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima.

•Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.

•Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

2. Hambatan Fisik

Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.

3. Hambatan Semantik.

Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.

4. Hambatan Psikologis

Jenis hambatan ini berkaitan erat dengan salah satu bentuk komunikasi yang dikenal dengan sebutan Assertive Communication atau komunikasi yang saling beinteraksi. Kenapa jenis komunikasi ini dapat dikatakan sebagai salah satu komunikasi yang memberikan hambatan terutama dalam hambatan psikologis? Padahal jenis komunikasi assertive atau komunikasi interaktif ini merupakan bentuk yang terbaik dalam berkomunikasi. Sebvelum kita membahas Assertive Communication lebih lanjut, mari kita melihat proses lahirnya Assertive Communication. Proses ini didahului oleh adanya Passive dan Aggressive Communication dimana masing komunikasi tersebut mempunyai arti sebagai berikut:

 Passive Communication (komunikasi pasif)

Suatu bentuk komunikasi dimana komunikasi ini membuat kita untuk lebih banyak berdiam diri. Arti dari berdiam diri ini adalah untuk menghindari konflik yang akan muncul. Komunikasi ini lebih memperhatikan kepada hubungan yang ada disebabkan karena adanya rasa takut akan kehilangan seseorang. Sifat dari komunikasi in bersifat semu karena condong mengarahkan kita untuk melihat atau memandang hubungan dari sisi si penerima daripada sisi kita sebagai pribadi yang mengirim pesan.

 Aggressive Communication (komunikasi agresif)

Suatu bentuk komunikasi dimana komunikasi ini digunakan untuk mempertahankan apa yang menjadi pendapat dari si pengirim, dimana biasanya komunikasi ini digunakan dalam mempertahankan ataupun mengambil keputusan dari suatu aktifitas tertentu. Sifat komunikasi ini adalah keras dan mempunyai sisi yang ekstrim.

Melihat dari kedua jenis komunikasi tersebut yang apabila diterapkan akan menganggu keseimbangan dalam bentuk komunikasi yang ada, maka munculah sebuah bentuk komunikasi baru yang merupakan gabungan atau kolaborasi dari kedua jenis komunikasi diatas yang dikenal dengan Assertive Communication. Assertive Communication ini mempunyai definisi sebagai berikut:

 Assertive Communication (komunikasi asertif)

Suatu bentuk komunikasi yang lebih menitik beratkan kepada waktu dimana komunikasi itu bisa “berubah“. Kenapa dikatakan berubah? Berubah karena bentuk komunikasi ini dapat menyesuaikan dengan keadaan yang terjadi disekitarnya, dimana untuk satu keadaan tertentu dapat bersifat pasif dan dalam keadaan atau situasi tertentu dapat bersifat agresif. Dan dikatakan berubah juga karena sifat dari komunikasi yang terjadi bahwa sekarang dengan adanya jenis komunikasi ini, maka komunikasi yang ada bersifat dua arah atau interaktif.

Dengan adanya pola atau jenis komunikasi baru tersebut maka persoalan yang ini akan dengan sendirinya berpulang kepada si pengirim. Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan. Elemen dari jenis komunikasi ini terdiri dari:

1. Adil (Fairness)
2. Tepat (Directness)
3. Bijaksana dan Peka (Tact and sensitivity)
4. Jujur (Honesty)

Terkait dengan penjelasan diatas, maka untuk bisa membuat dan mengambil keputusan dalam komunikasi interaksi (Assertive communication) tersebut, terdapat 3 bagian untuk membangun pernyataan tegas, yaitu:

1. Gambaran situasi, apa masalah atau situasi yang terlihat.
2. Perasaaan akan situasi, menjelaskan bagaimana situasi dapat dirasakan tanpa menyalahkan yang lain.
3. Ingin memperhatikan situasi atau menyampaikan hasil.

KESIMPULAN
Komunikasi dirumuskan sebagai suatu proses penyampaian pesan/informasi diantara beberapa orang. Karenanya komunikasi melibatkan seorang pengirim, pesan/informasi saluran dan penerima pesan yang mungkin juga memberikan umpan balik kepada pengirim untuk menyatakan bahwa pesan telah diterima. Dalam proses komunikasi kita juga harus ingat bahwa ada hambatan yaitu baik dari pengirim, saluran, penerima dan umpan balik serta hambatan fisik dan psikologis.

Tujuan komunikasi adalah berhubungan dan mengajak dengan orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan dalam mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan dalam bekerja sama dengan orang lain. Ada dua jenis komunikasi yaitu verbal dan non-verbal, komunikasi verbal meliputi kata-kata yang diucapkan atau tertulis, sedangkan komunikasi non-verbal meliputi bahasa tubuh. Menurut bentuk komunikasi, ada yang disebut komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah berarti sebuah pesan dikirim dari pengirim ke penerima tanpa ada umpan balik. Komunikasi dua arah terjadi bila pengiriman pesan dilakukan dan mendapatkan umpan balik. Komunikasi berdasarkan besarnya sasaran terdiri dari komunikasi massa, komunikasi kelompok, dan komunikasi perorangan. Sedangkan komunikasi berdasarkan arah pesan terbagi atas komunikasi satu arah dan komunikasi timbal balik (interaktif/interaksi).

Leave a comment »

Resah Tanpamu

sayang aku tahu
kita tak banyak bicara
kau jauh disana
ku menyimpan tanya

sayang aku tahu
kita tak banyak bertemu
namun hanya kamu
yang ada di hati

reff:
jangan sampai kau lukai hatiku
aku resah lalui waktu tanpamu
jangan sampai kau ragukan cintaku
aku takkan membuatmu terluka
meragu… percayalah…

sayang aku mau kita
‘kan slalu menyatu
walau kadang rindu
menyiksa batinku

sayang aku mau
jangan pernah kau meragu
walau aku jauh
hatiku untukmu

jangan sampai kau ragukan cintaku
aku takkan membuatmu terluka
meragu… percayalah…

repeat reff [4x]

Leave a comment »

Mahalnya sebuah proses pembelajaran

Mahalnya sebuah proses pembelajaran

Kedewasaan itu langka.
Kata sebuah iklan, menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.
Dan tekanan serta pengalaman kekecewaan akan menjadi sebuah bekal pembelajaran.
Kita tidak akan menjadi lebih dewasa ketika kita memenuhi apapun yang diinginkan orang-orang di sekitar kita.
Teman kita meminta nasihat-nasihat keras, tapi tidak menjamin kita akan menjadi lebih dewasa ketika kita berusaha untuk memberi apa yang dia minta.
Teman kita meminta kita jujur apa adanya, tetap tidak akan menjamin kita akan menjadi lebih bijaksana ketika kita berusaha jujur dan apa adanya tentang dirinya.
Maka menjadi dewasa itu adalah hasil pelatihan.
Dialektika batin antara akal dan perasaan.

Kedewasaan itu mahal.
Tidak jarang kita harus membayarnya dengan berjuta peluang dan kesempatan.
Peluang untuk berkarya maksimal. Atau kesempatan untuk menjadi orang besar.
Ketika kita sudah benar-benar dewasa di penghujung usia yang sudah tua, mungkin kita akan baru menyadari betapa kita telah menyia-nyiakan seluruh kesempatan yang dahulu pernah terbuka.
Komitmen itu perlu. Karena ia yang menjadi pegangan ketika jatuh.
Tapi sekali komitmen itu terucap, maka ranjau darat akan terbentang sepanjang mata melihat.
Dan disanalah kedewasaan sesungguhnya mendapatkan tantangan.
Tidak ada motif untuk membunuh karakter apapun dan siapapun.
Tidak pula hendak mengumbar aib seenak udel sendiri.
Karena tidak ada yang lebih indah dari pahitnya diskusi & saling mengingatkan antar saudara, meski rasanya sakit tak terkira.
Bisakah kita bayangkan? Rasa perih yang indah tak terperi.
Dialektika ini menjadikan semuanya semakin menantang.
Tak pernah sebelumnya ada pengalaman demikian dalam seluruh kamus perjuangan.
Apalagi tidak banyak waktu yang tersisa di hadapan.
Maka motivasi diri untuk meninggalkan sedikit bekasan perubahan ini harus rela menahan dahaganya.
Karena terkadang tidak semua kenyataan seindah yang diharapkan.
Betapa mahal sebuah proses pembelajaran…

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.